Telusuri sejarah perjuangan sembilan wali Allah (Wali Songo) dalam menyebarkan ajaran Islam secara damai, toleran, dan penuh kearifan budaya di bumi Nusantara.
Masa Hidup: Tahun
Metode: Perdagangan, pertanian, pengobatan gratis, dan akulturasi budaya tanpa menentang adat istiadat setempat.
Metode: Filsafat dakwah 'Moh Limo' (menolak lima kemaksiatan utama), kaderisasi ulama melalui Pesantren Ampeldenta.
Metode: Kesenian gamelan Bonang, pewayangan, tembang sakral (seperti Tombo Ati), serta karya sastra Suluk Wijil.
Metode: Sosial kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi yatim piatu & kaum miskin, musik gamelan Singomengkok.
Metode: Toleransi antar-agama (melarang penyembelihan sapi untuk menghormati umat Hindu), arsitektur menara Masjid Kudus bergaya pura.
Metode: Pendidikan anak melalui lagu dolanan (Lir-Ilir, Cublak-Cublak Suweng), jaringan niat maritim nusantara, pesantren Giri Kedaton.
Metode: Wayang Kulit dengan lakon Islami (Jamus Kalimasada), baju takwa, Grebeg Maulud, serta sekaten.
Metode: Dakwah menyendiri (tapa ngeli) di lereng gunung gersang, mendidik nelayan, petani, dan rakyat pedalaman.
Metode: Struktural kepemimpinan politik kesultanan, diplomat ulung, penguatan benteng militer anti-kolonialisme.
Gunakan nama yang lebih umum seperti 'Kalijaga', 'Kudus', 'Ampel', dsb.